Growol, Citarasa Kulon Progo Tempo Dulu

Kalian tahu growol? Mungkin sudah jarang menemui makanan satu ini. Growol merupakan makanan tempo dulu yang terbuat dari olahan ketela atau singkong. Makanan ini adalah khas dari Kulon Progo tempo dulu. Sangat erat sekali dengan sejarah berdirinya Kulon Progo. Makanan alternatif pengganti nasi memiliki rasa hambar atau gurih. Tapi untuk saat ini growol sudah dimodifikasi menjadi makanan yang manis dan beraneka ragam rasa.

Saat menyantap growol, tidaklah lengkap jika tidak ditemani dengan serundeng, tempe benguk ataupun ketak.

Sejarah Growol

growolSerat Centhini yang ditulis pada 1814 menceritakan makanan sayur besengek, umumnya sayur ini dihidangkan dengan nasi, namun oleh masyarakat Kulon Progo sayur ini ditemani oleh growol. Kebiasaan ini masih dipelihara warga Kulon Progo hingga sekarang, selain sayur besengek growol juga kerap ditemani pentho yang berbahan baku kelapa muda dan telur, sedangkan kethak yang berbahan baku endapan dari pengolahan minyak kelapa.

Cara pembuatan Growol

Growol dibuat dari ketela. Ketela dikupas kulitnya kemudian dicuci bersih. Selanjutnya ketela atau singkong direndam selama tiga hari. Setelah 3 hari, air rendaman dibuang selanjutnya ketela kembali dicuci sembari diuleni dengan lembut. Selanjutnya ketela ini dikukus hingga matang. Setelah matang, ketela ditumbuk dan dicetak. Penyajiannya dibungkus menggunakan daun pisang. Makanan berwarna putih ini bertahan selama 3 hari.

Harga Growol

Makanan tempo dulu ini sudah jarang sekali dijual di pasaran. Jika masih ada pun hanya di pasar tradisional. Penjual growol pun tak jarang mereka ibu-ibu yang sudah lanjut usia. Harga growol utuh sekitar Rp. 25.000 – Rp. 30.000, namun ada yang menjual irisan lebih kecil seharga Rp. 3000 – Rp. 5000.

Khasiat Growol

imagesGrowol merupakan makanan yang dapat mencegah diare. Menurut penelitian, Selama perendaman ketela terjadi fermentasi alami, berbagai jenis mikrobia yang tumbuh pada awal fermentasi adalah Coryneform, Streptococcus, Bacillus, Actinobacter, yang selanjutnya diikuti oleh Lactobacillus dan yeast sampai akhir fermentasi. Selama proses fermentasi, bakteri asam laktat yang paling dominan tumbuh, bakteri tersebut bersifat anaerob, amilolitik dan fermentatif. Jumlah bakteri asam laktat pada growol tiap gramnya sebesar 1,64 x 108 (Suharni,1984).

Jenis probiotik yang terdapat pada growol adalah Lactobacillus casei subsp. rhamnosus TGR-2 merupakan bakteri yang memiliki aktivitas anti mikrobia, mampu menghambat pertumbuhan Staphyloccoccus aureus FNCC 0047, E. coliFNCC 0091, ,i>Morganella morganii FNCC 0122, Salmonella typhimurium FNCC 0050, dan Bacillus cereus FNCC 0057. Selain itu juga metabolit ekstraseluler Lactobacillus casei subsp. rhamnosus tetap stabil pada suhu kamar, pada pemanasan 98ºC tahan selama 30 menit, pH 3 – 8; pada pemanasan 121ºC selama 15 menit; dan pada suhu 4ºC selama 21 hari (Rahayu et al.,1995).

2 penelitian tersebut menjelaskan khasiat growol sebagai citarasa warga kulon Progo tempo dulu.

Tak hanya Growol yang menjadi khas di Kulon Progo, masih ada Geblek dan lain-lain. Yang menjadi sorotan saat ini adalah Ikon Kulon Progo di setiap sudut Kota. Ikon kota Wates yang merupakan ibukota Kulon Progo saat ini adalah Geblek. Geblek sendiri sudah menjadi tren baru di kalangan Pegawai Negeri Sipil Pemerintah Daerah Kulon Progo dan Siswa – siswi Sekolah di Kulon Progo. Bupati Kulon Progo mengeluarkan peraturan penggunaan Batik “Geblek Renteng”, Mungkin akan ada saatnya Geblek Growol besok bisa di release sebagai ikon kota Wates. Karena setiap sudut Kota Wates saat ini sedang gencar-gencarnya diisi dengan ikon Geblek yang menjadi andalan Bupati Kulon Progo.

Bagaimana, masih ingin mengintip kisah kuliner tempo dulu di kulon Progo? Saatnya budayakan kuliner dalam negeri, agar Kulon Progo menjadi sorotan Dunia disaat mendatang.


TAG

Seseorang yang ingin mencoba dan memberi manfaat pada oranglain, Tidak lebih!