Kulon Progo dan Adikarto, Laksana Dua Negara menjadi satu

Siapa yang tak mengenal Kulon Progo saat ini? Tapi bagi kalian yang dahulu belum mengenal Kota wates, sebaiknya kita jelajahi setiap sudut keindahan Kota Wates, Kulon Progo dengan mata kita sendiri.

Kabupaten Kulon Progo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kabupaten yang berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Bantul ini memiliki 12 Kecamatan yang dibagi menjadi 88 Desa dan Kelurahan, serta 930 Pedukuhan. Ibukota Kabupaten Kulon Progo adalah Kota Wates. Sedangkan Kodepos Kulon Progo 55600, untuk Wates sendiri 55651.

Sejarah kabupaten Kulon Progo

jembatan-gantung

Sumber : Google

Pada zaman berakhirnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda, Kulon Progo merupakan gabungan dari Kabupaten Kulon Progo yang termasuk wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kabupaten Adikarto yang termasuk wilayah Kadipaten Pakualaman. Kedua Kabuapten ini digabung menjadi Kabupaten Kulon Progo pada tanggal 15 Oktober 1951.

Kabupaten Kulon Progo Tempo Dulu

Djogdja Tempo Doeloe - KERUMUNAN ORANG PADA PERESMIAN JEMBATAN SUNGAI SERANG, KULON PROGO TAHUN 1925

Sumber : Google

Nagragung yang masih termasuk Kulon Progo, dahulunya belum memiliki pejabat pemerintahan. Negaragung sendiri merupakan tempat Perang Diponegoro. Saat itu roda pemerintahan dijalankan oleh pepatih dalem yang berkedudukan di Ngayogyakarta Hadiningrat. Setelah Perang Diponegoro 1825-1830, Wilayah Kulon Progo dibagi menjadi empat kabupaten yang termasuk Kasultanan Ngayogyakarta :

  • Kabupaten Pengasih, tahun 1831
  • Kabupaten Sentolo, tahun 1831
  • Kabupaten Nanggulan, tahun 1851
  • Kabupaten Kalibawang, tahun 1855

Pada saat itu, masing-masing kabupaten dipimpin oleh seorang Tumenggung. Menurut buku Prodjo Kejawen pada tahun 1912, Kabupaten Pengasih, Sentolo, Naggulan dan Kalibawang digabung menjadi satu dan diberi nama Kabupaten Kulon Progo dengan ibukota di Pengasih. Bupati pertama di Kabupaten Kulon Progo adalah Raden Tumenggung Poerbowinoto.

Kemudian pada tahun 16 Februari 1927, Kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi dua kawedanan dengan delapan kapanewon, sedangkan ibukotanya dipindahkan ke Sentolo. Dua kawedanan tersebut adalah Kawedanan Pengasih yang meliputi

Kapanewon Lendah, Sentolo, Pengasih dan Kokap/Sermo. Kawedanan Nanggulan meliputi Kapanewon Watumurah/Girimulyo, Kalibawang dan Samigaluh.

Berikut adalah Daftar Bupati Kulon Progo yang menjabat hingga tahun 1951 adalah :

  1. Poerbowinoto
  2. Notoprajarto
  3. Harjodiningrat
  4. Djojodiningrat
  5. Pringgodiningrat
  6. Setjodiningrat
  7. Poerwoningrat

Kabupaten Adikarto Tempo Dulu

Selain itu, Kulon Progo saat ini memiliki daerah di Wilayah selatan yang awalnya bernama Karang Kemuning. Karang Kemuning termasuk keprajan Kejawen. Karang Kemuning sendiri lebih dikenal dengan nama Kabupaten Adikarto. Buku Vorstenlanden menjelaskan bahwa pada tahun 1813, Pangeran Notokusumo diangkat menjadi KGPA Ario Paku Alam I dan memiliki palungguh (Daerah Kekuasaan) di sebelah Barat Kali Progo di sepanjang Pantai Selatan yang dikenal dengan nama Pasir Urut Sewu. Tanah Palungguh tersebut memiliki letak yang berpencar-pencar, menurut cerita Tanah Palungguh itu disatukan yang diprakarsai oleh Sentono Ndalem Paku Alam yang bernama Kyai Kawirejo I. Kemudian Tanah Palungguh itu diberi nama Kabupaten Karang Kemuning dengan ibukota di Brosot.

Bupati Pertama Kabupaten Karang Kemuning adalah Tumenggung Sosrodigdoyo. Kemudian disusul Bupati Kedua adalah Rio Wasadirdjo yang mendapat perintah dari KGPAA Paku Alam V untuk mengadakan pengeringan Rawa di Karang Kemuning. Rawa-rawa yang kering tersebut dijadikan tanah persawahan yang Adi (Linuwih) dan Karta (Subur) atau bisa diartikan sangat subur. Dan Nama Karang Kemuning diganti menjadi Adikarta pada tahun 1877 oleh Sri Paduka Paku Alam V. Kabupaten Adikarta beribukota di Bendungan, kemudian dipindah ke Wates pada tahun 1903.

Kabupaten Adikarta memiliki dua kawedanan (distrik) yaitu kawedanan Sogan dan kawedanan Galur. Kawedanan Sogan meliputi kapanewon (onder distrik) Wates dan Temon, sedangkan Kawedanan Galur meliputi kapanewon Brosot dan Panjatan.

Berikut adalah Daftar Bupati Kulon Progo yang menjabat hingga tahun 1951 adalah :

  1. Tumenggung Sosrodigdoyo
  2. Rio Wasadirdjo
  3. T. Surotani
  4. M.T. Djayengirawan
  5. M.T. Notosubroto
  6. R.M.T. Suryaningrat
  7. K.R.T. Brotodiningrat
  8. R.T. Suryaningrat (Sungkono)

 

Bagai Dua Negara Menjadi satu yaitu Kulon Progo Namanya

Inilah saat detik-detik Kulon Progo saat ini menjadi kabupaten yang sangat Strategis. Dengan Kekayaan Hayati dari Bukit Menoreh hingga Pantai Selatan.

Pada tanggal 5 September 1945, Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII mengeluarkan amanat, bahwa Kasultanan dan Pakualaman adalah daerah yang bersifat kerajaan dan daerah Istimewa dari Negara Republik Indonesia.

Pada tahun 1951, Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII menggabungkan antara wilayah Kasultanan yaitu Kabupaten Kulon Progo dengan wilayah Pakualaman yaitu Kabupaten Adikarto. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1951 yang ditetapkan tanggal 12 Oktober 1951 dan diundangkan tanggal 15 Oktober 1951 adalah Bukti Kulon Progo saat ini ada. Undang-undang tersebut mengatur tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 untuk Penggabungan Daerah Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Adikarto dalam lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi satu kabupaten dengan nama Kulon Progo yang selanjutnya berhak mengatur dan mengurus rumah-tanganya sendiri. Undang-undang tersebut mulai berlaku mulai tanggal 15 Oktober 1951. Kita harus tahu hari Jadi Kulon Progo, karena setiap Hari Jadi Kulon Progo selalu diadakan Kulon Progo Fair. Hari Jadi Kulon Progo sesuai Yuridis adalah tanggal 15 Oktober 1951.

Pada tanggal 29 Desember 1951 proses penggabungan administrasi telah selesai dan pada tanggal 1 Januari 1952, administrasi pemerintahan baru, mulai dilaksanakan dengan pusat pemerintahan di Wates.

Daftar Bupati yang telah menjabat dari tahun 1951 hingga saat ini adalah sebagai berikut :

  1. Suryoningrat (1951-1959)
  2. Prodjo Suparno (1959-1962)
  3. Kertodiningrat (1963-1969)
  4. Soetedjo (1969-1975)
  5. Soeparno (1975-1980)
  6. Wijoyo Hadiningrat (1981-1991)
  7. H.Suratidjo (1991-2001)
  8. Toyo Santoso Dipo – HM.Anwar Hamid (2001-2006)
  9. Toyo Santoso Dipo – Drs.H.Mulyono (2006-2011)
  10. H.Hasto Wardoyo,Sp.OG(K) – Drs.H.Sutedjo (2011-sekarang)
Rumah Dinas Bupati

Sumber : Google

Itulah Kulon Progo Dulu dan saat ini. Kota Wates sebagai Ibukota yang akan menjadi pusat pemerintahan. Dalam pengembengannya Kulon Progo sendiri memiliki tempat Wisata alam yang sangat indah di sepanjang Bukit Menoreh dan Sepanjang Pantai Selatan. Serta cerita-cerita klasik Sugriwa dan Subali serta sejarah Perjuangan pada Masa kemerdekaan. Hingga kesenian-kesenia yang fenomenal serta makanan khas Kulon Progo yang menggugah selera.

Sumber : Wikipedia



Seseorang yang ingin mencoba dan memberi manfaat pada oranglain, Tidak lebih!