Lewat Bule Mengajar, Lia Andaria Grasia Memperkenalkan Kulon Progo

Kotawates.com, Kulon Progo – Dari kampung halamannya, Lia Andarina Grasia menjadi salah satu pemuda yang berhasil memperkenalkan nama Kulon Progo ke jagat raya, melalui Komunitas Bule Mengajar yang didirikannya.

Paling tidak, sampai saat ini telah puluhan partisipan dari 14 negara berbeda akhirnya mengunjungi Bumi Menoreh di ujung barat DIY ini.

Tidak hanya itu, lebih kurang setahun setelah komunitas itu berdiri pada 28 Oktober 2014, lulusan Magister Kajian Pariwisata UGM Yogyakarta tersebut akhirnya mencatatkan diri sebagai Juara I Pemuda Pelopor Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2015, Bidang Pendidikan yang diselenggarakan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Berkaca dari perjalanannya, perjuangan Lia ternyata cukup keras, membanggakan, sekaligus mengharukan.

Kisah singkat Lia meraih prestasi sebagai pemuda pelopor bidang pendidikan, yang bahkan disebut-sebut merupakan pertama kali untuk DIY apalagi Kulon Progo.
Ini diceritakannya saat hadir dalam open house di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, Kamis (19/11/2015).

Di hadapan Wakil Bupati Kulon Progo, Sutedjo, Lia menyatakan datang untuk memperlihatkan piala kepada jajaran pemimpin Kulon Progo sebagai bukti dia benar-benar meraih juara I dalam ajang tersebut.

“Piala ini diberikan langsung oleh Menteri Pemuda dan Olah Raga Imam Nahrowi pada 27 Oktober lalu di Tanjungpinang. Dua utusan DIY lainnya, dari Bantul peringkat III bidang pangan, dan satu lainnya dari Kulon Progo belum berhasil,” kata perempuan kelahiran Kulon Progo, 28 Juli 1990 tersebut.

Lia pun merasa bangga karena menjadi putra daerah Kulon Progo yang bahkan berhasil meraih juara I pemuda pelopor nasional.

Dia juga senang karena kegiatan Bule Mengajar yang dipeloporinya dapat menginisiasi untuk tidak hanya diterapkan di Kulon Progo tetapi juga secara nasional.
Adapun Komunitas Bule Mengajar didirikannya bersama pemuda lokal Kulon Progo.

Resmi terbentuk pada 28 Oktober 2014, komunitas ini memiliki anggota 36 pemuda yang kebanyakan merupakan mahasiswa asli Kulon Progo.

Mereka mengusung misi membantu mempromosikan Kulon Progo kepada Warga Negara Asing (WNA) melalui berbagai kegiatan, antara lain bidang pendidikan, sosial budaya, dan pariwisata.

Melalui bidang pendidikan, Bule Mengajar menjalin kerjasama dengan sejumlah sekolah menengah.

Partisipan yang merupakan warga negara asing bersama Bule Mengajar melakukan kunjungan ke sekolah dan mengajar atau berbagi selama sehari.

Mereka memperkenalkan cara interaksi dengan masyarakat lokal, dan berkeliling objek wisata Kulon Progo.

Warga Bendungan Wates ini pun berbinar-binar ketika mengenang detik-detik pengumuman pada 27 Oktober lalu di Tanjungpinang.

“Ada kebanggaan, saat upacara gerimis, memakai pakaian jawa, saat disebut nama saya, disebut nama Kuloprogo. Saya merasa bahagia bisa membawa nama Kulon Progo,” ujar pendiri sekaligus ketua komunitas tersebut.

Meski demikian, perjuangannya sempat menemui banyak kendala. Salah satunya ketika dirinya harus berurusan dengan Imigrasi dan kepolisian karena menyangkut wisatawan asing.

Menurutnya, Imigrasi sempat mengira Lia mempekerjakan bule atau warga asing. Demikian juga kepolisian curiga kegiatan itu memberi pengaruh buruk untuk Kulon Progo.

“Sebanyak 61 bule sempat terancam deportasi, saya terancam pidana. Termasuk pihak sekolah juga terkena masalah. Akhirnya semua selamat setelah melalui diskusi panjang,” kenangnya.

Dia bahkan mengaku menceritakan kenangannya itu di hadapan dewan juri hingga menangis.

Sumber : Tribunnews.com



Jadi Orang Pintar itu Baik, Tapi Jadi orang bermanfaat itu lebih baik