Penyair Kulon Progo Meluncurkan Antologi Puisi

Kotawates.com, Kulon Progo – Para seniman asal Kulon Progo baik yang aktif secara lokal maupun nasional tampil bergiliran dalam Panggung Sastra, Macapat dan Teater, di Pendopo Balai Desa Ngestiharjo, Minggu (13/12/2015).

Di sela-sela itu, mereka juga meluncurkan buku antologi puisi “Nyanyian Bukit Menoreh”, berisi 27 penyair asal Kulon Progo.

Sejumlah nama yang termuat dalam buku setebal 146 halaman itu antara lain Marwanto, Sugiono MS, Slamet Riyadi Sabrawi, Dewi Floren, Samsul Ma’arif, Sumarno, Papi Sadewa, dan beberapa lainnya.

Ketua Panitia, Sukino, mengatakan panggung Sastra Macapat dan Teater tersebut menjadi awal agar kelak semua yang terlibat dalam acara tersebut dapat berkolaborasi.

“Untuk saat ini belum berkolaborasi satu panggung. Masih bergiliran,” katanya, Minggu.
Acara yang juga dihadiri anggota DPRD DIY, Sudarto, sekaligus menjabat Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo serta sejumlah pejabat lain, itu diawali dengan macapat dari Anggara Kasih, Mekar Asih, Pambodja, dan Sari Swara.

Sekitar 15 menit tampil dengan baju peranakan, macapat tersebut dapat menggugah betapa pentingnya budaya untuk dilestarikan, di sela perkembangan dan perubahan zaman.

Terlebih, di Kulon Progo saat ini sedang mengalami proses perubahan seiring dengan pembangunan di beberapa lini.

Sudarto pada kesempatan itu mengatakan membumikan budaya memang harus bisa sampai masyarakat tingkat bawah. Jika banyak pelaku seni dan budaya, misal macapat, unjuk diri dalam suatu acara, sebaiknya hal itu juga diterapkan dalam acara tradisi di masyarakat.
“Karena budaya berarti budi dan daya. Artinya jika itu tertanam, maka kelak akan berpengaruh pada perilaku manusia di masyarakat,” katanya.

Sebaliknya, jika seni dan budaya itu hanya sampai sebatas panggung, menurutnya, masih meninggalkan pertanyaan besar. “Apakah sastra dan puisi nantinya juga akan tergeser oleh stand up komedi?” selorohnya.

Sudarto mengingatkan, seni dan budaya harus tertanam di masyarakat karena perubahan dari waktu ke waktu cukup pesat. Di Kulon Progo yang kini dalam proses megaproyek di sejumlah lokasi pun pada akhirnya berdampak pada perubahan budaya masyarakat.

“Ini PR berat. Kalau tidak dipertahankan dan ditanamkan dalam masyarakat maka semua akan hilang,” lanjutnya.

Selain macapat, satu persatu para penyair dari Kulon Progo juga tampil membacakan karya-karya yang termuat dalam antologi tersebut.

Demikian juga Tekape yang unjuk diri dengan teaternya mampu menjadi suguhan yang menggugah semangat berkarya para pelaku seni di Kulon Progo.

Ketua Forum Sastra Macapat dan Teater Kulon Progo, Marwanto, menyampaikan gelar panggung tersebut merupakan upaya untuk menumbuhkan kreasi dan karya dari seniman di Kulon Progo.
Menurutnya, forum tersebut menjadi satu dari 12 forum seni yang telah terbentuk di wilayah DIY ujung kulon ini.

“Ini tantangan agar ke depan semua dapat berkolaborasi. Harapannya semua tetap semangat berkarya dan berkembang bersama. Selain peluncuran buku antologi, di sini memuat aspek pementasan,” kata Marwanto.

Sumber : Tribunnews.com


TAG