Temuan Gua Bekas Tambang Mangan di Ngruno, Pengasih

Kotawates.com, Kulon Progo – Sebuah gua sepanjang lebih kurang 160 meter – 200 meter secara horisontal di bawah tanah ditemukan warga di Pedukuhan Ngruno Desa Karangsari Kecamatan Pengasih Kulon Progo.

Diyakini gua tersebut merupakan bekas tambang mangan. Gua yang bagian dalamnya sudah ditumbuhi stalaktit dengan tetesan air tersebut diperkirakan dibangun sejak zaman Belanda pada 1917.

Penggalian mulut gua bekas tambang mangan di Ngruno beberapa waktu terakhir ini membuat warga setempat begitu tertarik. Setelah warga berhasil membuka pintu gua dan menelusuri bagian di dalamnya, ternyata fakta di dalamnya memang benar-benar menarik.

Dengan lebar kisaran 1,5 meter – tiga meter dan tinggi lebih kurang lebih sama, gua itu memanjang di bawah tanah yang merupakan lahan milik warga setempat. Di bagian ujungnya, terdapat persimpangan dan lubang vertikal serupa sumur sedalam lebih kurang 20 meter – 30 meter.

Menariknya lagi, di bagian dinding atas gua tersebut mulai membentuk banyak stalaktit dengan tetesan air yang membuat dasar gua menjadi basah.

Warga setempat, Muhammad Ngadino, mengatakan gua tersebut sudah ada dan diketahuinya sejak zaman dahulu. Kakek ini mengaku semasa kecilnya kerap berburu binatang seperti Landak yang kerap merusak tanaman pertanian, di dalam gua tersebut.

Belakangan, warga setempat yang mendengar cerita para pendahulunya tentang gua itu kemudian melakukan kerjabakti di lokasi yang diperkirakan mulut gua. Saat kerjabakti itu, seorang warga yang menggunakan alat berupa linggis ternyata menembus lubang dalam di bawah tanah berbukit di Ngruno itu.

Warga akhirnya membukanya dan menemukan terowongan semacam gua. Warga lainnya tertarik dan mulai membersihkan lokasi sekitar mulut gua tersebut.

Temuan itu kemudian sampai ke Dinas Kebudayaan Kulon Progo yang melanjutkan koordinasi ke tim Geoheritage UPN Yogyakarta. Mulai Kamis (15/9/2016), tim dari UPN itu datang langsung ke lokasi dan melakukan penelurusan.

Tidak hanya tim Geoheritage UPN, personel kepolisian Polda DIY dengan peralatan lengkap juga datang melakukan penelusuran serta penelitian awal di sepanjang gua tersebut. Penelitian awal pada gua di Ngruno yang diperkirakan warga dibangun antara 1917 – 1921 sebagai bagian aliran air tambang mangan itu akhirnya membuat masyarakat setempat berkerumun karena penasaran.

Tim Geoheritage dari UPN Veteran Yogyakarta yang langsung masuk ke menyusuri gua tersebut antara lain Profesor Bambang Prastitho, Insinyur Magister Teknik Ahmad Subandrio, Profesor C Prasetyadi dan anggota tim lainnya. Terlanjur datang tanpa peralatan lengkap, mereka tetap menyusur gua dengan kondisi jalur becek dengan penerangan lampu senter.

Di dalam gua tersebut, tim itu kemudian mengamati bagian per bagian termasuk pada dinding langit-langit gua yang terlihat adanya stalaktit. Tim juga menemukan gumpalan batuan yang tak lain adalah batu kapur mengingat tanah di lokasi itu memang berkapur dan batu berwarna hitam yang diyakini merupakan mangan.

“Batuannya secara stratigrafi ini diperkirakan berusia 22 juta tahun – 30 juta tahun. Tapi keberadaan goa buatan untuk tambang mangan ini kira-kira sejak zaman Belanda tahun 1917, sama dengan mangan Kliripan (Kokap),” kata Ahmad Subandrio, usai penyusuran sembari membawa batu-batu yang sebagian berwarna hitam itu.

Adapun stalaktit dalam gua itu terbilang baru dalam tahap pembentukan. Berdasarkan ketebalannya sekitar 10 sentimeter, menurutnya, jika dalam setahun terbentuk maksimal dua sentimeter maka diperkirakan itu usianya 50 tahun lalu. Meski demikian, pembentukan dari semula tidak ada menjadi ada diyakini lebih dari 50 tahun lalu.

Apakah goa itu benar-benar merupakan lokasi tambang mangan, Subandrio mengatakan berdasarkan beberapa temuan adanya batuan mengandung mangan dan bentuk lokasinya, tempat itu memang bekas tambang. Namun, meski gua diyakini masyarakat menarik sebagai objek wisata, Subandrio mengatakan perlunya lebih dulu pemasangan penyangga dan blower penambah udara agar lebih aman.

“Karena dalam 10 menit sudah terasa panas kurang udara. Kalau dalam waktu dekat lebih baik untuk wisata pendidikan, tidak bisa dinilai dengan uang, itu lebih baik,” katanya.

Profesor Bambang Prastitho mengatakan lokasi bekas tambang mangan sebagaimana di Kliripan memang memiliki daya tarik yang besar. Demikian juga temuan gua di Ngruno itu.

Meski demikian, dia menyarankan agar gua tersebut sementara ini ditutup dulu sampai ada kesimpulan pasti sehingga dapat diantisipasi adanya retakan alam yang membahayakan dan demi keselamatan manusia.

“Temuan ini memang mengejutkan kami, karena kami tidak punya gambaran bahwa di tempat lain di luar Kliripan ada terowongan berkaitan dengan penambangan mangan,” imbuh Profesor C Prasetyadi.

Menurutnya, dalam catatan timnya, selama ini di Ngruno tidak ada koneksi atau keberadaan gua tambang mangan. Namun kenyataan bahwa warga menemukan dan masih ada saksi hidup, menurutnya, hal itu bisa dieksplorasi lebih baik lagi.

Hasil penelurusan di dalam terowongan itu pun, menurutnya, menunjukkan adanya fenomena menarik sebagaimana tambang mangan di Kliripan. Meski diyakini terowongan atau gua itu merupakan buatan manusia, ada beberapa hal di dalam yang membuat timnya akan kembali lagi untuk mempelajari dan mengaksesnya lebih jauh lagi.

“Kami masih tidak tahu koneksinya dengan situs utama di Kliripan. Maka ini lah yang perlu dipecahkan. Ini menarik kenapa ada gua terowongan di sini. Kalau di Kliripan kan jelas, ada terowongan ada tempat penimbunan yang menunjukkan ada sistem penambangan lengkap. Di sini perlu dipelajari lagi,” ujarnya.

Selain disarankan agar tempat itu kelak bisa dikembangkan sebagai tempat wisata dengan minat khusus seperti pendidikan, tim tersebut juga merekomendasikan goa tersebut akan menjadi kawasan cagar budaya.

Sebelumnya, Tim geoheritage UPN juga mengusulkan situs geoheritage kepada Kulon Progo yaitu antara lain penambangan mangan Kliripan. Tim menilai itu daya tarik besar karena banyak yang mengenal tambang mangan itu. Selain itu, tim juga mengusulkan Gua Kiskendo. Dengan lokasi di ketinggian di atas batuan api purba, ternyata gua tersebut memiliki air sejuk dan mengandung pasir besi.

Kabid Warisan Budaya Adat dan Tradisi Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Singgih Hapsoro, mengatakan masih akan mengoordinasikan langkah lanjut terkait penemuan itu dengan pimpinan.

Sejauh ini, Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Untung Waluyo, memang telah berkoordinasi dengan tim Geoheritage UPN tersebut untuk melakukan penelitian awal atau peninjauan lokasi.

Sumber : Tribunnews.com



Jadi Orang Pintar itu Baik, Tapi Jadi orang bermanfaat itu lebih baik